Bukit Tidar : Paku Pulau Jawa, Serasa Jadi Nobita

Dari perjalananku ke berbagai tempat, sangat jarang ada bukit di tengah kota. Beruntung banget kotaku Magelang punya itu. Bahkan dekat banget dari rumahku. Kalau aku bangun pagi dan melihat ke arah selatan maka berdirilah sebuah bukit yang penuh pepohonan hijau seolah menyapa ramah. Itulah Bukit Tidar. Sebuah bukit yang sering juga disebut Gunung Tidar. Karena terletak di kaki bukit, kawasan Magelang Selatan sering disebut Lembah Tidar. Itu jugalah kenapa blog ini kunamai Anak Lembah Tidar (biarpun kelak tulisanku bukan cuma tentang Magelang)

Bukit Tidar punya ketinggian 503 meter di atas permukaan laut. Secara mitos, Bukit Tidar dianggap sebagai Paku Pulau Jawa, karena letaknya di tengah Pulau Jawa. "Paku bumi" itu ditancapkan oleh dewa agar posisi Pulau Jawa menjadi kokoh di tengah lautan. Kalau secara ilmiah, belum jelas sejarah geologisnya apakah termasuk gunung purba seperti Nglanggeran atau cuma bukit biasa. Tapi menurut pakar sejarah kota yang pernah kutemui, kota Magelang ini adalah daerah perbukitan yang dipapras. Bahkan konon  kalau kita jalan dari Sungai Elo di kawasan Canguk ke Alun-alun Magelang, jaraknya lebih tinggi daripada Bukit Tidar!

Bukit Tidar dilihat dari atap rumahku

Bukit Tidar dilihat dari Kampung Rejosari


Oh ya, ada juga joke dari Gen Z yang menyebut Tidar sebagai Bukit Nobita. Fans Doraemon pasti tahu kan, cerita tentang "bukit belakang sekolah"? Nah, ternyata bukit itu bentuknya mirip sama Bukit Tidar (aku juga baru sadar belakangan ini). Kebetulan juga di Kampung Bengkok, tak jauh dari kaki bukit, ada SD Negeri Magersari 1. Jadi anak sekolah situ yang tahu joke di atas bakal serasa jadi Nobita, punya bukit belakang sekolah (yang penting jangan suka dapat nilai nol ya).

Hari ini, berhubung cuaca cukup bersahabat, aku kembali mencoba naik ke Bukit Tidar. Dari kejauhan aja sudah terlihat rimbunnya pepohonan hijau. Bikin sejuk mata dan pikiran.

Untuk menuju bukit nan hijau ini, kalau dari arah selatan, menuju Jalan Ikhlas, beloklah ke sebelah kiri. Tepat di belakang pertokoan Terminal Lama, di situlah gapura Kebun Raya Gunung Tidar. Menanjak sedikit, melewati Kampung Barakan, sampailah kita ke gerbang masuk. Itulah jalur resmi. Jadi selain jalur resmi itu bisa dibilang jalur  ilegal, kalau nekat resiko tanggung sendiri. Sedikit cerita, dulu waktu kecil aku pernah diajak ortu mendaki lewat jalur sebelah barat di Jalan Gatot Subroto. Track di sana masih hutan alami. Tapi sekarang jalur itu sudah ditutup. Malah kabarnya, di area barat itu pernah dilakukan pelepasliaran ribuan ular. Hiiiiii....

Gapura selamat datang

Gerbang resmi

Bong China


Di jalur resmi, dijamin lebih aman. Aku harus beli tiket dulu seharga Rp. 5.000, barulah bisa masuk. Di awal jalur, kutemui beberapa bong alias makam China. Dari kondisinya, makam-makam itu sudah sangat tua. Zaman dulu memang lereng Bukit Tidar adalah komplek pemakaman. Bahkan pada zaman itu Bukit Tidar hanyalah sebuah bukit gundul. Namun sejak tahun 1960-an, sedikit demi sedikit mulai dilakukan penghijauan. Sebagian besar makam direlokasi ke tempat lain namun ada beberapa yang dibiarkan tinggal karena alasan tertentu. Salah satunya milik Ko Kwat Ie, pengusaha cerutu terkenal yang menjadi cikal bakal New Armada. Makamnnya tidak terletak di jalur pendakian ini tapi agak di pelosok sebelah selatan.

Selagi menaiki anak tangga, aku berpapasan dengan rombongan orang yang akan naik. Mereka adalah para peziarah. Dari logat bicaranya sepertinya mereka berasal dari Cirebon. Ya, tak jauh dari puncak bukit ini ada makam Syekh Subakir, ulama asal Turki (ada juga yang menyebut asal Persia). Menurut cerita, Syekh Subakir menyebarkan agama Islam di pulau Jawa setelah bernegosiasi dengan Kyai Semar, pertapa  di Bukit Tidar.  Kemudian dengan tombak saktinya, Syekh Subakir mengalahkan jin jahat yang bersemayam di sana. Kini, makam Syekh Subakir banyak diziarahi oleh umat Islam dari berbagai daerah. Selain makam Syekh Subakir dan Kyai Semar, ada juga makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah nama orang tapi tombak sakti yang digunakan oleh Syekh Subakir. Tombak itu dikuburkan secara khusus dan diyakini sebagai penolak bala. Di puncak juga ada petilasan Pangeran Purboyo dari Kerajaan Mataram.

    Mari mendaki

Pohon-pohon penyejuk mata

Anak tangga yang panjaaang

Buat yang nggak terbiasa mendaki gunung, jangan kuatir, di sepanjang track sudah dibangun anak tangga dengan pegangan. Menaiki ratusan anak tangga membuatku harus banyak menarik nafas. Semakin ke atas kemiringannya semakin bertambah. Untunglah di beberapa titik ada rest area. Pohon-pohon tinggi seperti cemara, sengon, sonokeling, dan pinus membuat udara tetap sejuk meski di siang yang panas. 

Setelah makam dan masjid Syekh Subakir, jalan sedikit lebih landai. Siang itu hanya sedikit orang yang naik sampai puncak. 

Masjid Syekh Subakir


Akhirnya aku sampai juga di puncak Bukit Tidar. Begitu tiba di atas, capek langsung terbayar oleh hamparan area yang luas dan terbuka. Di puncaknya berdiri beberapa bangunan yang tersebar rapi, bikin suasana terasa lebih lega dan tenang.

Petilasan Pangeran Purboyo


Aku mencoba melihat sekeliling. Ada petilasan Pangeran Purboyo yang berupa pohon beringin besar. Begitu didekati.. wow wow wow... aku hampir panik saat puluhan monyet turun dari pohon. Oh ya, aku lupa, di Bukit Tidar ini banyak monyet. Biarpun mereka jinak, tapi bagi sebagian orang cukup meresahkan juga. Terkadang mereka turun sampai ke pemukiman warga. Warga Kampung Barakan biasanya akan menutup pintu dan jendela setiap kali ada monyet turun. 

Untunglah monyet-monyet itu tidak membuat ulah di depanku. Malahan mereka mendekati sekumpulan orang yang memberi mereka makan. Ya, ada saja pengunjung yang nekat kasih makan monyet biarpun sebenarnya dilarang.

Setidaknya ada empat tugu atau monumen di luar petilasan yang kusebutkan tadi. Pertama, Tugu Paku Tanah Jawa yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tugu putih itu bertuliskan aksara Jawa "Sa" pada ketiga sisinya dan lambang garuda pada sisi satunya. Kabarnya, tulisan "Sa" itu menggambarkan pepatah Jawa "sopo salah seleh" artinya "kebenaran atau kesalahan pasti akan terungkap".

Tugu Paku Jawa

Selain itu ada juga tugu raksasa milik Akademi Militer yang menjulang tinggi. Suasana makin semarak dengan Monumen Tanah Air Satu Bangsa. Ini adalah objek baru yang dibangun tahun 2017 dalam rangka Hari Olahraga Nasional ke XXIV dimana saat itu Magelang terpilih menjadi tuan rumah. Monumen ini berbentuk seperti kubah dengan paku besar di tengahnya dengan bagian atas seperti obor. Inilah gabungan lambang religi, budaya, dan olahraga. Uniknya, bahan monumen ini diambil dari tanah dan air berbagai provinsi di Indonesia! (Hmmm... jadi ingin nyanyi Satu Nusa Satu Bangsa). Cuma sayangnya, hiasan berbentuk globe di dalamnya sudah agak rusak.

Monumen Tanah Air Satu Bangsa

Tugu Akademi Militer

Lanjut ke sebelah timur, di samping makam Kyai Semar ada Gardu Pandang Elang Jawa. Sayangnya karena awan di langit mulai menggelap, aku tidak ke sana. Tapi kata orang sih gardu pandang itu spot yang bagus buat lihat matahari terbit.

Gardu Pandang Elang Jawa


Berkunjung ke Bukit Tidar ini kita tidak perlu kuatir kekurangan bekal. Di beberapa titik mulai dari makam Syekh Subakir hingga puncak ada beberapa penjual makanan. Rata-rata mereka bersifat musiman. Yang dijual kebanyakan makanan ringan, minuman kemasan, mie instan, pisang goreng, hingga sosis bakar. Aku berpikir, bagaimana cara mereka mengangkut peralatan dan dagangan sebanyak itu naik turun bukit. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu!

Saat turun, aku harus melewati jalur yang sama dengan saat naik tadi. Hati-hati, sembarangan turun lewat jalur lain karena ada area yang dikhususkan bagi  kegiatan Akademi Militer. Ya, di sisi barat dan selatan Bukit Tidar adalah Akademi Militer Nasional. Kawasan itu bisa dibilang "kawah candradimuka" untuk menggembleng para taruna. Ada ramalan kuno yang mengatakan Gunung Tidar akan meletus setiap tahun dan abunya akan tersebar ke seluruh Nusantara. Kini bisa dimaknai sebagai lulusan Akmil yang setiap tahunnya menyebar ke seluruh Nusantara. 


Jalan turun


Setahuku tidak ada pantangan khusus bagi pengunjung Bukit Tidar ini. Tapi ya kita tahu diri lah ya. Karena tempat ini juga menjadi wisata religi, bersikaplah yang sopan. Tak lupa, jagalah lingkungan. Jangan buang sampah sembarangan, jangan menyalakan api sembarangan, jangan memetik tanaman, dan jangan jangan yang lain. Jadikanlah  Kebun Raya Bukit Tidar sebagai ekosistem alami di tengah keramaian kota Magelang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dari Lembah Tidar

Menyambut Pagi Bersama Martabak Bu Sri