Lemah Teles, Angkringan Pak Dur

 "Matur nuwun. Lemah teles"

Kalimat penuh makna itu hampir selalu diucapkan beliau setiap kali menerima pembayaran dari pembeli. "Matur nuwun", bahasa Jawa halus yang artinya terima kasih. Sedangkan "lemah teles" adalah parikan atau pantun Jawa yang artinya "Sing Kuasa sing mbales" (Yang Mahakuasa yang membalas). 

Kalau dipikir-pikir, kalimat itu bukan sekadar ucapan. Ada rasa syukur, doa, dan mungkin juga harapan agar pembeli yang datang tidak kapok lalu kembali lagi besok malam. Begitulah gaya Pak Dur, penjual angkringan yang mangkal tak jauh dari rumahku.

Ya, kita bisa jumpai bapak yang ramah ini di belokan Jalan Tidar menuju Jalan Telasih, tepat di samping kanan Toko Azko. Di sana ada gerobak angkringan sederhana dengan tenda seadanya. Jangan tertipu tampilannya. Begitu buka di jam 19.30, tempat itu berubah jadi semacam “pos ronda kuliner”.




Driver ojol yang mampir buat istirahat, para pemuda nongkrong sambil ngobrol ngalor-ngidul, sampai warga Magersari dan Kemirirejo yang sedang berburu makan malam murah meriah.

Jujur saja, selain karena Pak Durnya ramah, alasan utamaku sering mampir adalah satu: harganya bersahabat dengan dompetku. Biasanya kalau di rumah lagi kehabisan makanan, atau tiba-tiba pengin jajan di malam hari, aku tinggal mengarahkan laju sepedaku ke angkringan Pak Dur.

Di tengah remang lampu, tinggal pilih saja mau makan apa. Cukup Rp. 2000 kita bisa makan nasi bungkus yang sering disebut nasi kucing. Nasinya ada 2 macam : lauk sambal teri atau lauk oseng tempe. Mau makan di tempat tinggal ambil sendok, asal jangan lupa kembalikan saat sudah selesai.



Tentunya tidak lengkap kalau tidak ada gorengan. Ya, di meja tersaji aneka gorengan seperti tahu, tempe, bakwan, bahkan cakar dan kepala ayam! Mau sate-satean? Ada sate usus, sate kikil dan sate telur puyuh. Harganya? Wow... masing-masing cuma Rp. 1000 , kecuali untuk kepala ayam dan sate telur yang dipatok Rp. 3000. Murah meriah dan mengenyangkan pokoknya.

Kalau soal minuman, biasanya aku pilih wedang jahe atau teh hangat, karena sangat pas dengan udara malam. Tidak cuma itu. Kita juga bisa pilih minuman jeruk hangat, kopi, susu, atau minuman kemasan seperti Milo dan Beng Beng. Soal harga, lagi-lagi tak perlu keluar uang banyak, karena ada di kisaran Rp. 3000 hingga Rp. 5000.



Jadi tidak salah kalau aku jadikan Angkringan Pak Dur sebagai langganan. Dari tempat ini aku dapat sebuah pelajaran bahwa bahagia itu tidak harus dengan kemewahan. Sebungkus nasi, segelas teh hangat, dan sepotong tempe goreng, sudah terasa istimewa saat hati kita penuh syukur. Filosofi "lemah teles" dari Pak Dur menunjukkan sebuah ketulusan untuk berserah diri pada Tuhan Yang Mahakuasa. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dari Lembah Tidar

Menyambut Pagi Bersama Martabak Bu Sri

Bukit Tidar : Paku Pulau Jawa, Serasa Jadi Nobita