Nostalgia Bakso Kakap Pak Wahid Semarang
Aku memang bukan tipe orang yang nyaman makan daging utuh. Tapi kalau sudah diolah jadi bakso, nah… aku masih bisa diajak kompromi. Meski begitu, aku tetap agak pilih-pilih. Kalau bakso urat, apalagi yang dikasih irisan lemak... big no deh.
Dari sekian banyak bakso yang pernah kucoba setiap kali main ke Semarang, ada satu yang paling bikin jatuh hati: bakso ikan kakap. Kuliner ini memang cukup terkenal di Semarang, apalagi karena kawasan Semarang Utara punya kampung nelayan yang jadi sumber ikan segar. Mungkin itu juga yang bikin rasa baksonya beda dari bakso sapi atau ayam, lebih gurih dan terasa khas.
Ada satu warung bakso kakap yang paling legend : Bakso Kakap Pak Wahid. Lokasinya di lajur kiri Jalan Citarum, Kota Semarang. Sudah lebih 30 tahun, warung tenda sederhana ini berdiri dengan menu yang sama. Dulu sempat buka cabang di Sukun, Banyumanik, tapi cabangnya sekarang sudah tutup.
Semasa kecil, aku sempat ragu mencoba bakso ini. Takut amis dan banyak serat daging. Setelah coba... eh malah jatuh hati. Waktu itu hampir setiap kali ke Semarang pasti merayu ortu buat mampir ke sini.
Hari ini juga, setelah dari acara Single Fellowship di GKI Karangsaru Semarang, aku menyempatkan diri memburu bakso kakap. Sudah lama banget, mungkin 10 tahun lebih aku nggak ke sini. Hanya berbekal ingatan, aku pastikan di Google Maps : Bakso Kakap Pak Wahid, Jalan Citarum. Syukurlah, ternyata masih buka! Langsung aku pesan Gojek.
Warung tenda itu masih berdiri tegak, sama seperti waktu dulu. Mungkin cuma layarnya yang berganti. Tempatnya nggak terlalu luas, cuma ada dua meja panjang. Karena waktu belum jauh dari jam makan siang, pengunjung masih ramai. Untungnya satu kursi kosong di pojokan masih ada. Dengan cepat aku tempati lalu pesan bakso seporsi.
Dalam hitungan menit, semangkok bakso kakap terhidang. Rasanya bernostalgia masa kecil. Isian baksonya masih sama seperti dulu : 3 butir bakso rebus, 3 butir bakso goreng, dan irisan bakso tahu, Ditambah sedikit irisan sawi caisim. Tak lupa taburan daun seledri dan bawang goreng yang bikin makin semarak. Seperti tradisiku kalau makan bakso, aku sengaja tidak memasukkan kecap dan saos agar bisa menyeruput kuah alami. Oh ya, harap dicatat, di sini tidak ada mie karena bakso ikan kurang nyambung kalau dikasih mie. Tapi kalau ingin full kenyang, bisa minta tambahan nasi putih.
Aku segera nikmati sampai tandas. Menurutku rasa baksonya masih sama seperti dulu. Tapi rasa kuahnya agak berubah. Kurang berasa kaldu ikannya. Ya, mungkin karena harga ikan semakin mahal, sementara harga seporsi bakso yang berkisar Rp. 20.000 ini sulit bersaing jika terlalu mahal. Itu dugaanku. Ataukah aku datang di saat yang tidak tepat dimana kuah ikannya sudah habis? Entahlah..
Apa pun itu, soal rasa kembali ke selera. Yang penting warung ini bisa tetap bertahan dengan kuliner khasnya. Bagiku pribadi, bakso kakap tetaplah menggoyang lidah.



Komentar
Posting Komentar