Sejuknya Kolam Di Taman Gladiol Magelang

Kalau bertanya pada teman-teman masa remajaku, dimana kolam favorit mereka kalau berenang, maka beberapa akan menjawab Kolam Renang Gladiol. Ya, sejak berdiri kurang lebih 25 tahun lalu, kolam ini jadi salah satu jujugan anak-anak dan remaja di kota Magelang kalau mau berenang. Tempatnya strategis dan harga tiketnya juga nggak mahal.

Aku sendiri belum pernah merasakan kolam itu karena baru beberapa tahun terakhir aku bisa berenang, itupun nggak mahir karena belajarnya otodidak. Bagiku yang penting bukan gaya batu aja. 

Setelah sekian lama tutup akibat pandemi Covid dan renovasi, akhirnya awal tahun 2026 ini Kolam Renang Gladiol kembali membuka pintunya untuk umum. Sekaligus membuka juga rasa penasaranku untuk mencoba. 

Seperti biasa aku memastikan dulu seperti apa kondisi kolamnya. Karena aku punya syarat khusus setiap mau berenang : tidak terlalu ramai, bukan kolam khusus anak-anak, dan kedalaman tidak lebih dari 1,5 meter. Ternyata cukup klop dengan diriku. Waktu yang tepat untuk berkunjung tentu saja siang hari dan bukan di akhir pekan maupun hari libur.






Dua hari sebelum bulan puasa tiba, aku akhirnya mencuri waktu pergi berenang di Kolam Renang Gladiol. Begitu sampai, aku takjub dengan taman di sekitarnya yang baru saja direnovasi. Lebih sejuk dan hijau, dilengkapi gazebo tempat santai. Terpikir buat santai dulu. Ah, tapi tujuanku ke sini kan mau berenang. Jadi nggak perlu lama-lama di taman.




Untuk berenang, kita harus bayar tiket Rp. 15.000 untuk umum. Kalau buat anak-anak lebih murah, Rp. 10.000. Kadang-kadang ada juga yang menyewa kolam untuk les renang. Jadi jangan kaget kalau kadang kita harus bareng anak-anak yang lagi belajar. Tepi kolam berupa selasar yang lebar buat para orang tua yang menjagai anaknya. 


Aku segera bersiap untuk renang. Di sini belum ada kamar ganti khusus, jadi kalau mau ganti pakaian harus ke kamar mandi. Tapi nggak perlu kuatir, karena di sini ada beberapa kamar mandi. Yang masih kurang adalah penitipan barang. Mau nggak mau, harus taruh barang di tepi kolam. Selam berenang, mata harus terus mengawasi.

Akhirnya, setelah ganti pakaian, aku turun ke kolam. Aku jejakkan kakiku pelan-pelan. Bagiku selama kakiku bisa menapak dan air tidak lebih dari leherku, masih aman. Segera aku berenang mengitari kolam. Siang itu cuma aku yang sendirian. Biar sajalah.



Satu kolam ini punya berbagai kedalaman, mulai dari setengah meter sampai sekitar 2 meter. Struktur dasarnya miring ke sebelah timur, semakin ke timur semakin dalam. Batas kedalaman ditandai oleh batu besar di tepi. Karena tidak mahir berenang di tempat dalam, begitu air mencapai leherku, aku langsung beralih ke arah lain. 

Air kolam ini sejuk. Biarpun kolam umum tapi aroma kaporitnya nggak terlalu terasa. Yang pasti anak kecil harus didampingi orang dewasa karena tidak ada tim penjaga yang memadai. Tapi rata-rata pengunjung sudah paham. Anak-anak yang belum pandai renang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat dangkal yang kebetulan juga dilengkapi perosotan. Asyiklah buat sekedar ngadem. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dari Lembah Tidar

Menyambut Pagi Bersama Martabak Bu Sri

Bukit Tidar : Paku Pulau Jawa, Serasa Jadi Nobita