Nasi Pecel "Yu Saji" Semarang, Sajian Nikmat Di Jalan Yang Panjang

Seperti biasa, setiap hari Minggu kedua, aku sempatkan diri hadir di persekutuan Single Fellowship yang diadakan GKI Karangsaru Semarang. Ya, kapan lagi bisa kumpul teman sefrekuensi buat diriku yang nggak kunjung punya pasangan ini. Tapi di tulisan kali ini aku nggak mau bahas soal kejombloanku, aku mau cerita tentang kuliner yang kutemukan di sela-sela kunjungan ke Semarang minggu lalu. 

Kebaktian Minggu di GKI Karangsaru selesai jam 10.50. Artinya masih ada setengah jam lebih sebelum persekutuan SF dimulai. Karena lapar, aku cari penjual makanan di sekitar gereja. Aku kurang berminat kalau harus jalan ke daerah Gang Pinggir atau seputaran Pecinan. Biarpun kulinernya dijamin enak-enak, tapi takutnya harganya kurang bersahabat buat pelanggan angkringan sepertiku. Akhirnya aku jalan ke arah timur.

Di depan gereja kutemui seorang bapak yang menjajakan kerupuk rambak. Memang sudah sifatku, aku mudah kasihan dengan pedagang kecil seperti ini. Saat kutanya harganya, bapak itu jawab 16 ribu per 2 bungkus. Waduh, kebanyakan pak! Akhirnya si bapak berbaik hati jual 1 bungkus seharga 8 ribu. Ya okelah.

Aku terus jalan, mencoba memilah satu-satu penjual makanan yang ada di Jalan Karangsaru. Ada Es Dawet Duren yang selalu ramai didatangi jemaat gereja saat pulang ibadah. Tapi aku nggak dulu deh, karena aku nggak doyan durian. Terus, di ujung jalan ada warung penjual aneka masakan babi, seperti lo sio bak, ngohiong, kekian, babi goreng, nasi goreng babi. Ini juga aku skip karena aku anti daging berlemak. By the way, daerah Jagalan ini bagian dari Pecinan, sehingga kuliner non halal sudah biasa di sini. Inilah bukti tolerannya warga Semarang. Perbedaan bisa hidup berdampingan tanpa saling menyalahkan.

Belok ke Jalan MT Haryono. Orang Semarang atau yang sering ke Semarang, pasti tahulah Jalan MT Haryono. Jalan besar ini membelah bagian tengah kota dengan panjang 4 km lebih. Tapi aku nggak mungkin jalan jauh-jauh karena harus kejar waktu. 

Akhirnya beberapa puluh meter dari situ aku temukan Nasi Pecel Yu Saji. Sebuah warung yang menempati bagian depan sebuah ruko. Seperti kebanyakan penjual pecel di Jawa, ada seorang ibu yang duduk melayani pembeli di sebuah meja dengan aneka sayuran dan lauk. 



Saat aku masuk, si ibu mempersilahkan dengan ramah. Tentu saja aku pesan nasi pecel seporsi. Si ibu bertanya, mau lauk apa. Wah bingung juga, karena banyak pilihan di sini. Tapi akhirnya aku pilih tempe bacem. Tempe itu lalu diiris-iris dan dicampur dengan sayuran, dan disiram sambal kacang. Berikutnya ditaburi remahan rempeyek teri. 

Dengan cepat aku nikmati. Sambal pecelnya pas, pedas tapi nggak bikin huh hah, mengingatkan pada pecel Gambringan khas Grobogan. Perpaduan nasi, sayuran, tempe, dan rempeyek terasa gurih nikmat. Dalam sekejap greng kenyangnya... 



Lauk di sini memang beraneka ragam, bebas pilih sesuai selera. Ada tempe bacem, tahu bacem, hati ampela ayam, sate usus, telur bulat, tahu goreng, tempe goreng, bakwan jagung, martabak... banyak deh. Aku ambil sepotong tahu goreng. Ups, ternyata isinya rebung. Citarasa Semarang banget deh...

Nasi Pecel Yu Saji ini ternyata sudah banyak pelanggan di kawasan itu. Selagi aku makan, ada beberapa orang yang datang dan pergi. Dan sepertinya selera memang bisa berpaling. Terbukti ada yang batal beli karena lauk telur habis. 



Harganya pun bersahabat. Saat aku bayar semua yang kumakan, ditambah segelas es teh manis, total semua Rp. 20 ribu. Aku segera jalan kembali ke gereja dengan puas, bisa mengikuti SF dengan perut yang sudah terisi penuh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dari Lembah Tidar

Menyambut Pagi Bersama Martabak Bu Sri

Asyiknya Jogging Di Lapangan Atletik Tri Lomba Juang