Warung Makan Bu Carik, Parakan : Legenda Kuliner Di Daerah Sejuk

 Let's go to Parakan! Di tengah musim kemarau yang panasnya bukan main ini paling enak kalau berkunjung ke daerah pegunungan. Setidaknya mencari suhu udara yang sedikit manusiawi daripada di kota. Benar saja, siang itu biarpun matahari bersinar terang tapi tidak menyengat. Gunung Sindoro menjulang jelas di depan membuat udara sejuk, 

Sambil jalan-jalan di kecamatan yang jadi pusat perdagangan tembakau ini aku mengincar kuliner. Kuperhatikan mayoritas makanan di sini tak jauh beda dengan di Magelang dan Wonosobo. Berhubung waktu makan siang sudah tiba, aku langsung ke tujuan utamaku. Sebuah warung makan legendaris : Bu Carik.

Beberapa ratus meter sebelah barat Pasar Legi Parakan, berdirilah bangunan bercat putih dengan kusen jendela hijau, di atasnya tertulis dengan huruf besar : Warung Makan Bu Carik.  Tempat ini sudah berdiri sejak 1950an, sudah jadi persinggahan berbagai kalangan, termasuk artis dan pejabat. Seistimewa apa sih? Yuk kita lihat.




Memasuki warung makan  ini, nuansa kehangatan khas Jawa langsung terasa. Ruangannya terlihat sederhana, tak banyak ornamen, hanya sejumlah kalender dan lukisan seperti warung makan Jawa pada umumnya. Ada juga foto keluarga, mungkin pendirinya. Menurut info di internet, pengelola warung makan ini sudah sampai di generasi ketiga. Dari nenek diturunkan ke cucunya. 



Seorang ibu menyapa dengan ramah, mempersilahkanku mau makan apa.  Aku agak grogi karena datang sendirian. Di sini ada banyak pilihan masakan Jawa rumahan. Akhirnya aku pilih aja nasi dengan sayur kol bumbu kuning, krecek, opor tahu dan telur rebus. Sebenarnya yang paling terkenal di sini adalah brongkos. Itu sayur bumbu keluak dengan lauk tahu dan daging sapi. Tapi aku nggak pilih itu, karena lagi batasi konsumsi daging. Makanan khas lainnya adalah empis-empis tempe, sejenis sambal goreng tempe dengan cabai hijau. 



Ada beberapa pilihan tempat duduk. Mau di meja family ala rumah makan, mau di meja samping ala warung bakso, atau mau di meja depan penjual juga boleh. Di tiap meja terhidang beberapa piring gorengan dan jajanan pasar yang bisa dipilih buat cemilan. Aku cukup mengambil sepotong tahu goreng sebagai pelengkap makanku. Saat itu tempat duduk belum terlalu penuh jadi aku pilih duduk sendirian di meja family, biar nyaman makannya. 

Citarasa masakannya klop dengan lidahku. Khas masakan Jawa. Bumbunya pas, tidak terlalu dominan asin maupun manis. Rasa pedas dari sambal krecek pun standar, bukan yang bikin huh hah. Harga makananku ditambah segelas es teh, totalnya Rp. 22.500. Mungkin agak pricey kalau dibandingkan warteg atau warung makan sejenis, tapi maklumlah Warung Bu Carik ini sudah melegenda, lagipula sebanding kok dengan rasanya. 

Di meja samping, tertata aneka oleh-oleh khas. Kebanyakan dari Wonosobo, seperti kacang Dieng, keripik jamur, keripik tempe, dan rengginang. Jadi, buat yang datang dari luar kota, sesudah makan bisa sekalian beli oleh-oleh. 



Aku beruntung datang jam 11 siang, karena warung ini pasti ramai saat jam makan siang. Terbukti pas aku selesai makan, serombongan orang datang, sepertinya karyawan yang sudah langganan makan di sini. Inilah buah dari  kesetiaan. Rasa dan nuansa tradisional yang konsisten diwariskan turun temurun membuat kita tak dapat berpaling walau kuliner modern bertebaran. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dari Lembah Tidar

Menyambut Pagi Bersama Martabak Bu Sri

Nostalgia Bakso Kakap Pak Wahid Semarang